Corat-coret seputar ITB dan LPDP Schoolarship (#1)
Hampir 3 tahun aku bekerja di Sugar Group Companies sebagai Audit Supervisor. Di tahun ketiga inilah entah kenapa aku bermimpi bertemu dengan pembimbing akhirku saat S1. Di dalam mimpi itu, beliau memintaku untuk melanjutkan pendidikan. Itu kuyakini sebagai jawaban atas doaku selama ini. Doaku yang semakin galau dengan keinginan hati ini. Apakah beralih menjadi mahasiswa lagi atau tetap sebagai seorang karyawan swasta. Sedikit pencerahan itu membuatku berani mengambil pilihan untuk mengutarakan keinginan kepada keluarga bahwa aku ingin kuliah lagi. Mereka tentu saja tidak keberatan. Mereka selalu memberi dukungan (saat menulis tulisan ini aku betul-betul kangen keluarga yang berada jauh di seberang pulau sana). Mereka sangat mendukungku mengejar mimpiku. Mimpiku yang akahir-akhir ini mengusik tidur malamku. Untuk kuliah lagi aku berpikir, aku sudah bekerja tapi tabunganku tidak cukup untuk membiayai kuliahku nanti. Melihat kondisi keluarga, aku juga tidak mungkin masih meminta Bapak dan Ibu membiayaiku sementara aku tahu di saat yang bersamaan mereka harus membiayaiku kuliah adikku juga.
Aku mulai memutar otak. Pertengahan Januari 2015, aku mendaftarkan diri untuk mengikuti tes TPA di IPB. Aku sengaja memilih tanggal 18 Januari 2015 yang bertepatan dengan hari minggu agar tidak repot mengajukan cuti kerja (Senin-Sabtu aku masih harus ngantor). Sabtu pukul 2 siang aku naik bus weekend dari site perusahaan ke Bandar Lampung. 4 jam lamanya kuhabiskan diperjalanan. Sesampainya di bandar lampung aku menunggu sekitar 3 jam sampai tiba saatnya keberangkatan bus Damri menuju Bogor. Nothing Special, aku berangkat sendiri ke Bogor. Kubulatkan tekadku mengikuti tes itu tanpa persiapan apapun. Aku yakin Tuhan bersamaku dan kenekatan itu sungguh membuatku berpikir semoga saja hasilnya bagus setelah begitu banyak uang yang kuhabiskan demi tes ini. Tuhan sangat berbaik hati, Aku selamat sampai di tujuan dan berhasil mengikuti tes dengan sangat baik.
Minggu usai tes itu aku langsung kembali ke Lampung menaiki bus Damri. Itu adalah perjuangan pertamaku demi mewujudkan keinginanku untuk kuliah lagi. Seminggu setelahnya, pengantar surat dari kantor pos datang ke rumah membawa sebuah amplop yang di dalamnya berisikan hasil tes TPA-ku. Tuhan kembali berbaik hati, tertulis angka 612 disana. Setidaknya nilai itu mampu melewati passing grade TPA yang diminta oleh universitas yang kutuju, ITB. Aku senang tapi di lain pihak aku juga harus mengurus berkas-berkas yang lain seperti TOEFL. Segera aku mengurus pendaftaran untuk TOEFL di bulan itu juga. Namun sayang, saat aku mendaftar untuk mengikuti tes TOEFL TP di Unila ternyata tesnya berlangsung keesokan harinya. Tentu saja aku tidak bisa mengikuti jadwal tersebut karna jarak dari site ke bandar lampung yang cukup jauh dan mengingat kondisiku yang tidak akan prima saat mengerjakan soal-soal tes tersebut. Akhirnya dengan berat hati aku meminta untuk dicarikan jadwal lain. Karna aku sudah mendaftar dan membayar biaya pendaftaran, pihak Pusat Bahasa Unila pun berjanji akan menghubungiku lagi bila sudah ada jadwal tes yang baru.
Sebulan, Dua Bulan, akhirnya aku menerima telpon dari Pusat Bahasa Unila yang menyatakan bahwa aku bisa mengikuti tes ITP pada tanggal 7 Maret 2015. Segera saja aku ambil cuti 2 hari untuk mengikuti tes itu. Aku mengikuti tes ITP pertama kali dalam hidupku. Perasaanku campur aduk aduk saat itu tapi akhirnya aku bisa melewatinya dengan semaksimal mungkin. Dua minggu kemudian, hasil tes keluar. Karena aku berhalangan untuk mengambil hasil tersebut, aku meminta tolong kepada salah satu juniorku di kampus untuk mengambilkannya. Ada 1 pesan yang kusampaikan padanya saat itu yaitu "Dek, kalau hasilnya di atas 500 tolong duplikatin 1 lagi ya, mau mbak pakai buat apply beasiswa". Ternyata score ITP ku 517. Lumayan sekali bagiku yang minim preparation karna harus nyambi kerja. Itu adalah perjuangan keduaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar